FTMM NEWS – Program Matching Fund Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbud Ristek) yang diselenggarakan Fakultas Teknologi Maju dan Multidisiplin Universitas Airlangga terbagi menjadi beberapa serangkaian agenda. Salah satunya adalah gelaran workshop bertajuk ‘Pemrograman Aplikasi Android Untuk Sistem Telemetri Berbasis Internet of Things (IoT)’ yang terlaksana pada Sabtu (13/11/2021).
Agenda yang berlangsung secara daring itu bertujuan mengenalkan teknologi Internet of Things pada mahasiswa FTMM dan sebidangnya. Prisma Megantoro, S.T., M.Eng, selaku dosen Teknik Elektro yang membuka acara ini, menekankan pentingnya penguasaan IoT bagi mahasiswa.
“Kita telah menginjak era Revolusi 4.0, sudah era-nya android, skill seperti ini sangat penting. Semoga nantinya mahasiswa dapat turut berkontribusi dalam proyek pengembangan IoT,” ujarnya melalui Zoom dan saluran Youtube FTMM UNAIR.
Pada webinar ini menghadirkan Tri Wahyu Prasetyo S.Kom, sebagai pembicara tunggal. Menurut Wahyu, IoT merupakan kemampuan memantau atau mengendalikan perangkat dengan bantuan internet. Arsitekturnya terdiri dari server, aplikasi, dan mikrokontroler.
Era Android Sudah Berjalan Satu Dekade
“Android telah hadir di sisi kita sejak 10 tahun lalu. Bahasa native-nya itu Java, tapi seiring berjalannya waktu telah muncul banyak bahasa lain yang dapat digunakan,” jelasnya.
Menurutnya, belajar pemrograman sejatinya tidak sulit. Namun, pemilihan dan pemakaian perangkat sebagai medianya harus tepat.
Spesifikasi minimum komputer atau laptop untuk pemrograman setidaknya memiliki spesifikasi RAM 8GB. Selain itu telah menggunakan prosesor Core i3 atau i5. “Kartu grafis tidak berpengaruh, yang terpenting RAM dan prosesornya,” imbuh Wahyu.
“Jika spesifikasi komputer atau laptop rendah, alangkah baiknya tidak menjalankan emulator di komputer. Hal itu supaya tidak akan menggangu kinerja komputer,” tandasnya.
Selain spesifikasi perangkat, masalah yang acap kali di alami pemrogram adalah error. Biasanya, hal ini disebabkan dari sisi coding-annya. Karena menggunakan dependensi yang lama.
Terlebih android cepat sekali mengalami perubahan (pembaruan, Red) sangat cepat. Bahkan bisa dalam hitungan bulan. “Bisa karena perbedaan versi. Ada beberapa coding-an yang terdeteksi error. Kalau begini, solusinya harus kita edit dan sesuaikan dengan library yang baru,” jelasnya.
Pada akhir, Wahyu mengajak seluruh peserta untuk membangun server menggunakan software Android Studio. Seluruh peserta yang hadir tampak antusias selama sesi diskusi dan pemaparan materi.(*)(erk/wil)


