FTMM NEWS – Pemanfaatan kecerdasan buatan (AI) kini berkembang pesat dalam sistem energi terbarukan. Mulanya, sistem panel surya hanya mengandalkan posisi tetap dan prediksi cuaca umum. Namun, kini AI mampu meningkatkan efisiensi energi dengan memprediksi iradiasi matahari secara akurat.
AI menganalisis data historis cuaca, posisi geografis, dan waktu untuk memperkirakan intensitas cahaya harian. Faktanya, model prediksi ini membantu operator menentukan kapan panel bekerja paling optimal. Selain itu, AI juga dapat mendeteksi pola cuaca ekstrem yang mempengaruhi performa sistem.
Di samping itu, AI mengatur posisi panel surya secara otomatis melalui mekanisme solar tracking. Sistem ini menggerakkan panel mengikuti arah matahari dari timur ke barat. Jadi, energi yang diserap meningkat tanpa perlu campur tangan manusia. Apalagi, pengaturan posisi ini terus beradaptasi setiap detik sesuai kondisi langit.
AI tidak hanya mengatur posisi, tapi juga memperkirakan pasokan daya harian. Sistem pembelajaran mesin (machine learning) menghitung kapasitas produksi energi berdasarkan kondisi iradiasi. Karenanya, distribusi listrik tetap stabil meski intensitas matahari berubah. Akhirnya, jaringan listrik lebih efisien dan ramah lingkungan.
Sedangkan, tanpa bantuan AI, sistem sering mengalami kelebihan atau kekurangan daya. Demikian sehingga, penerapan AI menjadi langkah penting menuju sistem energi masa depan yang cerdas, adaptif, dan berkelanjutan.
Daftar Pustaka:
Li, X., et al. (2023). Artificial Intelligence Applications in Solar Energy Forecasting and Optimization. Renewable Energy Journal, 215, 1203–1215.
Bouri, A., & Zhang, J. (2022). Machine Learning for Smart Solar Tracking Systems. IEEE Access, 10, 74650–74662.
Penulis : Muhammad Revasa Anargya, Teknik Robotika dan Kecerdasan Buatan
Editor : Muhammad Alesha Fadhana


