FTMM NEWS – Perkembangan Supply Chain Management (SCM) dalam teknik industri mendorong pelaku industri untuk mengadopsi sistem yang lebih terintegrasi dan berkelanjutan, salah satunya melalui penerapan reverse logistics. Pendekatan reverse logistics memungkinkan pengelolaan aliran material secara tertutup (closed-loop supply chain), sehingga efisiensi sumber daya dapat ditingkatkan secara signifikan. Industri ritel menjadi sektor yang relevan dalam penerapan reverse logistics karena memiliki volume distribusi produk yang tinggi serta penggunaan kemasan plastik yang masif. Tanpa sistem reverse logistics yang baik, peningkatan limbah plastik akan sulit dikendalikan. Data menunjukkan bahwa plastik menyumbang sekitar 20% dari total sampah nasional (Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, 2025), sehingga penerapan reverse logistics menjadi solusi strategis dalam mengurangi limbah sekaligus meningkatkan nilai guna material.
Dalam praktiknya, perusahaan memanfaatkan reverse logistics sebagai instrumen untuk mengoptimalkan efisiensi sumber daya. Sistem ini mengatur aliran balik material dari konsumen menuju produsen melalui beberapa tahapan, mulai dari pengumpulan produk hingga penyaringan produk untuk memastikan kualitas material. Selanjutnya, perusahaan melakukan proses inspeksi dan penyortiran berdasarkan karakteristik teknis sebelum mereka menentukan perlakuan yang sesuai, seperti reuse atau repairing. Melalui proses ini, perusahaan dapat mengubah limbah kemasan plastik menjadi sumber daya yang memiliki nilai guna. Salah satu implementasi di Indonesia terlihat pada Rezycology yang membangun ekosistem daur ulang terintegrasi, serta pada pengembangan model reverse logistics oleh beberapa institusi perguruan tinggi di Indonesia dalam konteks ekonomi sirkular.
Optimasi Nilai Tambah dan Efisiensi Sumber Daya
Untuk memastikan manfaat ekonomi yang optimal, perusahaan melakukan analisis nilai tambah dengan membandingkan biaya input dan nilai output dari proses pengolahan material. Pendekatan ini menunjukkan bahwa aktivitas reuse dan repairing mampu meningkatkan nilai ekonomi material bekas sekaligus menekan biaya produksi. Selain itu, pengelolaan limbah yang terintegrasi juga mengurangi volume sampah yang berakhir di tempat pembuangan akhir. Di Indonesia, bank sampah berperan sebagai pemasok bahan baku daur ulang yang turut memperkuat sistem ini (Antara News, 2022). Dengan demikian, penerapan reverse logistics tidak hanya meningkatkan efisiensi operasional, tetapi juga memberikan keunggulan kompetitif melalui optimalisasi sumber daya secara berkelanjutan.
DAFTAR PUSTAKA
Charoenchan, S. (2026, March). Circular economy practices as a mediator between reverse logistics, product value recovery, and sustainable industries. Journal of Open Innovation: Technology, Market, and Complexity, 12(1), 1-17. https://doi.org/10.1016/j.joitmc.2026.100726
Kementerian Lingkungan Hidup. (2025). Data Pengelolaan Sampah & RTH. https://portal-sipsn.kemenlh.go.id/data/komposisi-sampah
Rahmah, N. N. (2026, January 12). Bisnis Sampah Rezycology Dilirik Investor Asing, Raup Pendanaan Rp 3,3 Miliar – Investasi Hijau Katadata.co.id. Katadata. Retrieved April 4, 2026, from https://katadata.co.id/ekonomi-hijau/investasi-hijau/6964a1894ecdf/bisnis-sampah-rezycology-dilirik-investor-asing-raup-pendanaan-rp-3-3-miliar
Violleta, P. T. (2022, February Tuesday). KLHK: Bank sampah berpotensi isi kebutuhan bahan baku daur ulang. https://www.antaranews.com/berita/2718957/klhk-bank-sampah-berpotensi-isi-kebutuhan-bahan-baku-daur-ulang
Widjayanto, W. (2025, October). Standardisasi Reverse Logistics untuk Mendukung Implementasi Guna Ulang Produk. 1-12. https://www.fiskaldaerah.com/2025/10/standardisasi-reverse-logistics-untuk.html
Penulis : Rafif Zufar Sasongko – Teknik Industri
Editor : Andri Hariyanto



