FTMM Desiminasikan Hasil Riset Nanosensor berbasis Screen Printed Electrode di BBPOM Denpasar

FTMM NEWS – Program Studi Rekayasa Nanoteknologi (RN) Fakultas Teknologi Maju dan Multidisiplin (FTMM) Universitas Airlangga (Unair) Surabaya, menggelar pelatihan di Bali, Selasa (23/7/2024). Pelatihan nanosensor berbasis Screen Printed Electrode untuk deteksi bahan tambahan makanan ini bekerja sama dengan Balai Besar Pangan, Obat, dan Makanan (BBPOM) di Denpasar melalui Pengabdian Masyarakat. Dua narasumber adalah dosen Prodi RN yakni Mirza Ardella Saputra, M.Sc., Ph.D, dengan materi Nanoteknologi dan Sensor dan Prastika Krisma Jiwanti, Ph.D., yang membawakan materi Aplikasi dan Demo Teknologi Nanosensor di Bidang Kesehatan dan Makanan.

Desiminasi pengetahuan yang merupakan kegiatan pengabdian masyarakat Prodi RN ini melibatkan 44 orang peserta. Yang terdiri dari anggota BBPPOM di Denpasar, dosen, dan mahasiswa dari Universitas Udayana serta Universitas Mahasaraswati dan lainnya. Prastika Krisma Jiwanti, Ph.D, telah mendalami penelitian mengenai nanosensor ini bertahun-tahun dengan menggunakan SPE Boron-Doped Diamond Nanoparticle (BDDNP). Ini sensor antibiotik dan bahan makanan. Menurut dosen RN Tahta Amrilah, Ph.D. aplikasi SPE-BDDNP ini akan lebih bermanfaat kalau sudah terdisiminasi kepada praktisi yang berkecimpung pada analisa rutin karena SPE-BDDNP bersifat real-time, simple, akurat, sensitif, dan selektif.

Kaprodi RN, Prof. Dr. Retno Sari, Apt, mengatakan, ini bukan pertama kalinya Prodi RN melakukan pengabdian masyarakat berupa desiminasi IPTEK di BBPOM. Tahun lalu kami melakukannya di BBPOM di Pontianak. “Lebih lanjut, pentingnya desiminasi penelitian ini dapat membantu pengujian maupun analisis rutin. BPOM menjadikan desiminasi sebagai sensor antibiotic maupun pemanis buatan,” terang Prof Retno. Dengan mengembangkan teknologi maju, seperti nanoteknologi, sensor ini memiliki keunggulan dengan metode konvensional yang juga membutuhkan instrumen-instrumen yang rumit.

Sementara itu, Kepala BBPOM di Denpasar, Dra. IGA Adhi Aryapatni, Apt, diwakili Kepala Bagian Tata Usaha Made Ery Bahari Hantana, S.Si., Apt., menyambut hangat kerja sama ini dan sangat antusias dalam membuka acara. Peserta yang mengikuti kegiatan pengabdian masyarakat ini juga sangat aktif dan antusias melihat adanya perkembangan sensor berbasis nanoteknologi yang belum diketahui sebelumnya. Peserta berharap kegiatan seperti ini dapat sering berlangsung untuk menambah wawasan terkait ilmu yang sedang berkembang di bidang sensor.

Apa itu Screen Printed Electrode?

Screen printed electrode adalah teknologi yang menggunakan teknik cetak saring (screen printing) untuk menciptakan elektroda pada berbagai substrat. Teknik cetak saring sendiri adalah metode yang sudah lama terpakai dalam industri percetakan. Tapi penggunaannya dalam pembuatan elektroda merupakan inovasi yang relatif baru. Dengan mengoleskan pasta konduktif pada substrat melalui mesh screen, teknologi ini memungkinkan pembuatan pola elektroda yang presisi dan efisien.

Cara Kerja Screen Printed Electrode

Proses pembuatan screen printed electrode bermula dengan persiapan substrat, seperti kaca, keramik, atau plastik. Substrat ini kemudian mendapat tambahan pasta konduktif yang mengandung partikel logam seperti perak atau karbon. Pasta ini teraplikasikan melalui mesh screen yang memiliki pola elektroda. Setelah pasta teraplikasikan, substrat kemudian mendapatkan kenaikan suhu dengan sinar UV. Ini untuk mengeringkan dan mengeraskan pasta, sehingga terbentuklah elektroda yang solid dan fungsional. Teknik ini memungkinkan pembuatan elektroda dengan berbagai bentuk dan ukuran. Serta bisa menyesuaikan kebutuhan spesifik dari aplikasi. Keuntungan lain dari metode ini adalah kemampuannya untuk menghasilkan elektroda dalam jumlah besar dengan biaya produksi yang relatif rendah.

Sumber: Radar Bali

Editor: Rizky Astari Rahmania

Bagikan:

Facebook
Twitter
WhatsApp
Telegram
Email
LinkedIn

Artikel Terkait