FTMM NEWS – Pernahkah ketika kamu baru check-out, tapi di pagi kurir dengan paketmu semalam sudah berada di depan rumahmu? Apakah kurirnya mengebut layaknya pembalap F1? Tentu tidak. Rahasia mereka bukan pada kecepatan gas motornya, melainkan pada kecerdasan sistemnya.
Si “Paling Tahu Jalan” di Balik Layar
Bayangkan seorang kurir harus mengantar setidaknya 100 paket dalam sehari ke alamat yang berbeda-beda di kota dengan lalu lintas yang cukup padat. Jika ia hanya mengandalkan instingnya untuk menentukan alamat terdekat darinya berdasarkan sedikit informasi yang ia miliki, maka sudah pasti ia akan berputar-putar tak tentu arah. Bahkan, ada kemungkinan ia pun dapat memilih rute yang cukup padat akibat sedikitnya informasi. Jika hal seperti itu berulang terus-menerus, maka apakah target 100 paketnya ini akan segera terselesaikan?
Kuncinya disini adalah menentukan rute terpendek antara kurir dengan tujuan-tujuannya. Oleh karena itu, melalui algoritma Shortest-Route Problem permasalahan kurir tersebut dapat teratasi dengan baik. Algoritma ini menjadi otak bagi GPS kurir untuk menentukan urutan rumah mana yang harus ia kunjungi terlebih dahulu agar dapat menghemat, baik itu bahan bakar transportasi maupun waktunya. Sistem ini tidak hanya membantu dalam mencari jarak terpendek secara kilometer, namun juga secara rute dengan waktu tempuh paling minimal.
Strategi “Mampir” yang Jenius
Kamu mungkin bingung, kenapa paket dari Jakarta dengan tujuan Surabaya perlu “mampir” terlebih dahulu ke gudang-gudang transit (Hub) di kota lain? Bukankah hal tersebut justru makin memperlama proses distribusi paket? Nyatanya, strategi ini justru lebih efisien dan menguntungkan bagi kamu sebagai penerima paket.
Ibaratnya, kamu perlu menumpangi bus antar kota. Untuk dapat menaiki bus antar kota tersebut, kamu perlu datang ke terminal bus terlebih dahulu. Karena dalam sudut pandang bus antar kota tersebut akan lebih efisien apabila mengumpulkan banyak penumpang di terminal bus terlebih dahulu daripada menjemput penumpang satu per satu di rumah masing-masing. Pada akhirnya, biaya yang perlu kalian keluarkan untuk membayar jasa bus antar kota ini lebih sedikit karena tidak adanya ongkos menjemput terlebih dahulu. Sama seperti kamu, biaya ongkos kirim yang perlu kamu bayar hanya Rp1.000,00 atau bahkan bisa gratis.
Eliminasi “Waktu Mati”
Dalam Teknik Industri, setiap detik kurir diam atau setiap meter truk berjalan namun muatan kosong disebut sebagai “waste” atau pemborosan. Mengacu pada Institute of Industrial and Systems Engineers (IISE) Body of Knowledge 12, sistem logistik modern sengaja menggunakan desain yang sangat “Lean” contohnya seperti kasus kurir tersebut. Artinya, pergerakan barang juga diperhitungkan dari rak gudang ke tangan kurir dengan sangat presisi, per satuan detiknya. Maka, jika ada proses yang menghambat, sistem akan langsung mendeteksinya sebelum paketmu terlambat.
Pada akhirnya, kecepatan kilat paketmu sampai di depan pintu rumahmu adalah hasil dari sinkronisasi antara manusia, mesin, dan matematika. Teknik Industri ada untuk memastikan bahwa setiap pergerakan barang memiliki nilai tambah (value-added) dan membuang semua aktivitas yang sia-sia. Jadi, saat berikutnya kamu menerima paket dalam waktu singkat, ingatlah bahwa ada ribuan baris kode optimasi yang sedang bekerja keras memastikan hidupmu menjadi lebih mudah.
Daftar Pustaka
Badiru, A. B., & Badiru, A. B. (Eds.). (2013). Handbook of Industrial and Systems Engineering (2nd ed.). CRC Press.
Lakutu, N. F., Katili, M. R., Mahmud, S. L., & Yahya, N. I. (2023, Juni). Algoritma Dijkstra dan Algoritma Greedy Untuk Optimasi Rute Pengiriman Barang Pada Kantor Pos Gorontalo. EULER: Jurnal Ilmiah Matematika, Sains dan Teknologi, 11(1). doi.org/10.34312/euler.v11i1.18244
Maynard, H. B. (2001). Maynard’s Industrial Engineering Handbook (K. B. Zandin, Ed.). McGraw-Hill Education.
Taha, H. A. (2017). Operations Research an Introduction (10th ed.). Pearson.
Penulis: Anisya Shifa Syahida – Teknik Industri
Editor: Andri Hariyanto



