Transformasi Konsumsi Global Demi Keberlanjutan Ekosistem

FTMM NEWSPola konsumsi dan produksi yang tidak berkelanjutan menciptakan tiga krisis planet: perubahan iklim, hilangnya keanekaragaman hayati, dan polusi. Pola ini meningkatkan polusi dan timbulan limbah yang membebani daya dukung ekosistem. Menurut World Economic Forum (2020), manusia hanya 0,01% dari biomassa, tapi merusak 83% mamalia liar dan 50% tanaman. Aktivitas manusia juga mengubah 75% daratan dan 66% lingkungan laut secara negatif. Akibatnya, ekosistem global menurun sebesar 47% dalam ukuran dan kondisi.

Eksploitasi berlebihan terhadap sumber daya alam dapat memicu kehancuran ekosistem. Populasi dunia diperkirakan melebihi 9 miliar pada 2050, meningkatkan permintaan pangan dan energi. Kita perlu mengadopsi pola konsumsi dan produksi yang inovatif dan bertanggung jawab. SDG 12 mendorong perubahan mendasar dalam produksi dan konsumsi demi keberlanjutan. Tujuan ini hanya tercapai melalui kerja sama dan koordinasi global.

Apa dampaknya?

Produksi dan konsumsi pangan yang tidak teratur menghasilkan banyak limbah. Konsumsi berlebih di sektor pariwisata juga memperparah masalah. Turis cenderung membeli produk ramah lingkungan jika merasakan manfaat pribadi. Masalah ini menandakan pentingnya transformasi menuju sistem konsumsi yang berkelanjutan. Perubahan harus mencakup seluruh rantai produksi hingga konsumsi.

Sistem pangan global perlu reformasi agar memenuhi kebutuhan populasi yang terus tumbuh. Produksi biji-bijian harus meningkat sambil mengurangi pemborosan pangan. Sistem pangan yang adil akan memastikan semua orang mendapat akses terhadap pangan bergizi. SDGs 2 dan 12 saling terkait dalam mendukung ketahanan dan kualitas pangan. Pengurangan limbah makanan dapat mempercepat tercapainya target-target SDGs.

Siapa yang menjadi juru kunci?

Industri makanan memainkan peran penting dalam pencapaian seluruh SDGs. Rantai pasok yang efisien memperbaiki kualitas pangan dan mengurangi limbah. Hal ini menunjukkan sinergi antara gizi, kesehatan, dan konsumsi berkelanjutan. Perubahan pola makan harus memperhatikan dampak lingkungan dan sosial. Inovasi dalam produksi pangan harus mengutamakan keberlanjutan.

Di sektor fashion, produsen kini merilis 52 koleksi per tahun. Produksi massal ini meningkatkan konsumsi dan polusi lingkungan. Fast fashion mengeksploitasi tenaga kerja dan mengabaikan hak cipta. Konsumen membeli pakaian karena trend, bukan kebutuhan. Industri ini memproduksi 80 miliar pakaian setiap tahun, melebihi jumlah populasi dunia.

Jika tren ini terus berlanjut, manusia membutuhkan lebih dari lima planet untuk bertahan. Kita harus mengubah pola konsumsi untuk mencegah krisis lingkungan. Masyarakat, media, dan perusahaan kini menyoroti pentingnya keberlanjutan. Kita harus bertindak cepat sebelum krisis lingkungan menjadi tak terkendali. Masa depan tergantung pada cara kita memproduksi dan mengkonsumsi hari ini.

Penulis : Mahdi Tambayong 

Editor : Muhammad Alesha Fadhana

Referensi

Earth.Org. (2022). Fast fashion’s detrimental effect on the environment.
Global Nutrition Report. (2021). Nutrition and the Sustainable Development Goals.
The Guardian. (2024, January 18). ‘It’s the industry’s dirty secret’: Why fashion’s oversupply problem is an environmental disaster.
United Nations. (2015). Transforming our world: The 2030 agenda for sustainable development.
United Nations. Goal 12: Ensure sustainable consumption and production patterns.
United Nations Development Programme. (n.d.). Goal 12: Responsible consumption and production.
World Economic Forum. (2020). 5 reasons why biodiversity matters – to human health, the economy and your wellbeing.
World Economic Forum. (2020). Nature risk rising: Why the crisis engulfing nature matters for business and the economy [New Nature Economy Report.]

Bagikan:

Facebook
Twitter
WhatsApp
Telegram
Email
LinkedIn

Artikel Terkait