Webinar Prodi Rekayasa Nanoteknologi Bahas Potensi Nanoteknologi untuk Masa Depan

FTMM NEWS – “Keilmuan multidisiplin diperlukan untuk menyelesaikan problematika yang semakin bervariasi. Hadirnya FTMM sekaligus menjadi prinsip baru dalam kelengkapan empat pilar keilmuan di UNAIR,” ujar Dekan Fakultas Teknologi Maju Dan Multidisiplin, Prof. Dr. Dwi Setyawan, S.Si., M.Si., Apt. dalam pembukaan Webinar and Talkshow NANOTECHNOLOGY: THE HIGH-TECH REVOLUTION pada Sabtu (13/03/2021). 

Prof. Dwi –sapaan akrabnya- mengungkapkan program studi Rekayasa Nanoteknologi (RN) merupakan salah satu prodi tingkat Sarjana pertama di Indonesia yang berada di UNAIR. Kedepannya, prodi RN siap memberikan kader terbaiknya guna memecahkan permasalahan bangsa.

Sementara itu, Ketua Program Studi Rekayasa Nanoteknologi, Dr. Retno Sari, M.Sc., Apt, mengatakan webinar dan talkshow kali ini menghadirkan dosen Nanoteknologi, yakni Tahta Amrillah, S.Si., M.Sc., Ph.D, dan Prastika Krisma Jiwanti, S.Si., M.Sc.Eng., Ph.D.

“Istilah Nanoteknologi di sekolah masih jarang didiskusikan, maka webinar ini diharapkan dapat menjadi ruang diskusi dengan narasumber yang kompeten di bidangnya. Narasumbernya adalah Bu Prastika lulusan Keio University dan pak Tahta lulusan National Chiao Tung University,” jelasnya.

Program Studi Rekayasa Nanoteknologi UNAIR

Mengawali diskusi, Tahta –sapaan akrabnya- menjelaskan pada tahun pertama FTMM terbentuk, sekitar 400 mahasiswa diterima, dan 81 diantaranya menjadi mahasiswa RN. Dilaksanakannya webinar Nanotechnology sekaligus menjadi upaya memperkenalkan dan memicu kecintaan terhadap sains dan teknologi, utamanya bidang nanoteknologi.

“Meski jumlah pengajar masih sedikit, namun dosen RN sangat kompeten dan profesional yang merupakan lulusan luar negeri dengan jenjang terakhir S3,” ungkap Tahta.

Lalu, apa sih yang bisa dilakukan mahasiswa Rekayasa Nanoteknologi? Tahta mengilustrasikannya dengan superhero Ant-Man dan Ironman yang menerapkan nanoteknologi. Penerapan nanoteknologi sudah direpresentasikan pada film populer. 

“Bagaimana membuat nanopartikel dengan menggunakan bahan-bahan organik mikroorganisme, seperti yeast, fungi, bakteria. Lalu, membuat partikel nano emas, melalui reaksi kimia, kemudian kita bisa membuat plant tissues, membuat ekstrak tumbuhan lebih kecil,” jelasnya.

Kemudian apa sih kegunaan nano partikel? Tahta menerangkan kegunaanya sebagai antipatogen, antibakteri, pengaplikasian dalam bidang kosmestik, biomedik, penerapan green technology, hingga teknologi memasukkan partikelnya yang tidak berbahaya ke dalam tubuh. Sementara itu, salah satu bidang spesialisasi Tahta adalah membuat material kecil untuk penerapan alat elektronik.


Sejarah Nanoteknologi

Darimana nanoteknologi terkenal? Prastika Krisma Jiwanti, S.Si., M.Sc.Eng., Ph.D, menjelaskan bahwa ahli fisika Richard P. Feynman, mengutip ‘mengapa sebuah mesin yang sangat besar dan memenuhi ruangan, kenapa kita tidak membuat dalam ukuran kecil’. Kemudian, kata Nanoteknologi dikenalkan Prof. Norio Taniguchi pada tahun 1974. “Dari situlah nanoteknologi berkembang hingga sekarang,” ungkapnya.

Prastika mengungkapkan ukuran partikel 1 nm – 100 nm disebut benda nano, misalnya virus, dan DNA. “Perbandingannya sangat kecil sekali dan memiliki fungsi lebih baik dari benda yang besar. Contohnya emas berwarna kekuningan, kalau sudah berukuran 2 nano, 5 nano berwarna merah. Partikel nano yang besar tidak memiliki sifat katalistis yang lebih baik dibandingkan dengan ukuran nano,” jelasnya.

Saat ini, representasi pemanfaatan nanoteknologi yakni pada perubahan komputer yang besar menjadi laptop yang handling dan kecil. Kemudian, contoh lain adalah nanofiltrasi, air yang kotor menjadi bersih dan dapat diminum.

Salah satu penggunaan nanoteknologi lainnya adalah sel surya, sedangkan pada bidang farmasi sudah ada inovasi lain. Partikel nano dapat dijadikan pengantar obat untuk membunuh sel kanker. Di bidang sensor, screen printed electrode. “Sekarang sudah banyak alat tes sederhana, bahkan dibuat fleksibel, karena bahan yang dipakai semakin sedikit, maka harganya murah,” imbuhnya.

“Menguasai nanoteknologi berarti juga menguasai teknologi masa depan,” pungkasnya.

Share:

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on whatsapp
WhatsApp
Share on telegram
Telegram
Share on email
Email
Share on linkedin
LinkedIn

Related Posts