Wadek II FTMM Berikan Tanggapan Kenaikan Harga Jelang Lebaran

FTMM NEWS – Memasuki Ramadan tahun 2022, banyak ditemui kenaikan harga komoditas pokok termasuk minyak goreng, gula, hingga BBM.

Selain itu, Pajak Penambahan Nilai (PPN) yang sebelumya 10 persen, juga mengalami kenaikan menjadi 11 persen. Hal ini tentu mempengaruhi harga komoditas di pasaran, karena bagi produsen kenaikan harga tersebut akan mempengaruhi hasil produksi atas meningkatnya harga bahan baku.

Fenomena kenaikan harga menjelang perayaan hari besar seperti lebaran, hari raya kurban, hingga Natal memang kerap ditemui setiap tahunnya. Namun, kenaikan pada tahun ini dirasa sangat memberatkan masyarakat, karena perekonomian baru saja mulai bangkit setelah Pandemi Covid-19 selama dua tahun.

Dr Imron Mawardi Wakil Dekan II Fakultas Teknologi Maju dan Multidisiplin (FTMM) Universitas Airlangga (Unair), dalam keterangan tertulis yang diterima Suara Surabaya, Senin (18/4/2022) menyebut, fenomena kenaikan harga jelang hari besar biasanya didasari tingginya permintaan akan kebutuhan.

Selain itu, pada Ramadan tahun ini, masyarakat dihadapkan dengan euforia karena dua momen Ramadan sebelumnya, dilaksanakan pembatasan sosial.

“Untuk tahun ini itu karena ada fenomena pemulihan pandemi, dan ditambah juga ada konflik Ukraina dan Rusia, itu dampaknya luar biasa,” ujar Imron.

Langkah Antisipasi yang Bisa Diambil

Ekonom Unair menyebut, hal ini dapat diantisipasi dengan baik jika pemerintah melakukan penambahan supply barang oleh pasar, kenaikan harga harusnya tidak terjadi dan terus terulang. Meski demikian, pola kenaikan permintaan menjelang hari besar ini sering dimanfaatkan oleh oknum tidak bertanggungjawab. Alhasil, meskipun ada intervensi dari pemerintah, fenomena tersebut akan terus terulang.

“Kalau menurut saya, untuk bulan April, perkiraan saya inflasi akan diatas 0,5 dibandingkan inflasi bulan sebelumnya. Kalau kita lihat fenomena sebelumnya pun, memang, inflasi di bulan Ramadan lebih tinggi dari bulan-bulan sebelumnya,” sambungnya.

Selain itu, ia pun menyoroti melambungnya harga minyak, baik minyak goreng maupun BBM. Baginya, kenaikan harga crude palm oil (CPO) akan meningkatkan harga minyak goreng. Kenaikan ini akan menyebabkan inflasi yang disebut cost push inflation atau inflasi yang diakibatkan oleh kenaikan biaya produksi.

Dikhawatirkan kenaikan BBM jenis Pertamax yang signifikan akan membuat banyak penggunanya beralih ke Pertalite yang lebih terjangkau karena subsidi. Hal itu tentunya akan berdampak pada peningkatan permintaan BBM jenis Pertalite, sehingga bisa berimbas pada kelangkaan.

Indikasi Pergerakan Perekonomian

Meski demikian, kenaikan harga di bulan Ramadan tidak selamanya buruk, karena juga dapat mengindikasi bahwa roda perekonomian di tengah bergerak. Imron juga menyoroti fenomena menjelang lebaran, seperti pemberian tunjangan kepada karyawan, hingga pendistribusian kekayaan kepada masyarakat miskin melalui zakat, infak, dan sedekah, yang masif digencarkan saat bulan Ramadan.

“Ketika orang punya uang dari menerima sedekah, otomatis permintaan barang akan naik kan, karena mereka akan membelanjakan uang itu. Begitupun para mustahiq (orang penerima zakat) yang akan membelanjakan uangnya,” tutur Ekonom Unair tersebut.

Imron juga berpesan kepada masyarakat, untuk membuat skala prioritas dan memahami apa itu keinginan  dan kebutuhan. Menurutnya, keinginan adalah hal yang tidak terbatas sedangkan kebutuhan itu terbatas.

“Jadi sebenarnya, kalau dasar kita ini kebutuhan, maka kita akan hemat. Ini juga tuntunan agama,” pungkasnya.(*)(un/wil)

Share:

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on whatsapp
WhatsApp
Share on telegram
Telegram
Share on email
Email
Share on linkedin
LinkedIn

Related Posts

X