Smanu (Smart Nurse): Digital Vital Signs and Intravenous Drip Monitor antarkan Aisyah Afnan sabetSilver Medal ajang Internasional

FTMM NEWS – Ksatria Airlangga Fakultas Teknologi Maju dan Multidisiplin kembali menorehkan prestasi prestisius dalam ajang Internasional. Aisyah Afnan, mahasiswi Rekayasa Nanoteknologi sukses bersaing dengan lebih dari 1700 peserta dan menyabet silver award dalam kompetisi Young Inventors Challenge (YIC) 2021. Kompetisi yang diselenggarakan Association of Science Technology and Innovation (ASTI) dari Malaysia itu berlangsung secara virtual.

Titik fokus YIC 2021 bertumpu pada inovasi dan penelitian. Sehingga. Sassya -sapaan akrabnya- berinovasi melalui karya yang dia beri nama Smanu (Smart Nurse): Digital Vital Signs and Intravenous Drip Monitor. SMANU merupakan alat pemantau suhu, detak jantung, saturasi oksigen, volume, dan flowrate (laju alir, Red) pada infus.

“Alat ini memanfaatkan Internet of Things (IoT) sehingga, SMANU terintegrasi dengan gawai atau komputer. Saya harap dengan alat ini, tenaga kesehatan akan lebih mudah memantau kondisi pasien dan mengurangi kontak langsung dengan mereka yang terinfeksi virus Covid-19,” jelas Aisyah Afnan.

 

Perjuangan dalam Berkompetisi

Lebih lanjut, Sassya menceritakan jika perjuangannya dalam kompetisi tersebut tidak mudah dan singkat. “Kompetisi ini berlangsung sejak April 2021 hingga Oktober 2021. Artinya saya telah berjuang dalam ajang ini sejak SMA,” imbuhnya.

Perjuangan Sassya berawal pada tanggal 8 April 2021 dengan tahapan awal penyusunan proposal. Setelah dinyatakan lolos, pada September 2021 dia mengumpulkan laporan dan video karya. Selanjutnya, Sassya terpilih menjadi finalis yang melakukan presentasi dan wawancara pada Oktober 2021, sehingga dia dinyatakan sebagai salah satu pemenang pada tanggal 20 November 2021.

“Alhamdulillah perjuangan selama enam bulan itu tidak sia-sia. Prestasi ini telah mewujudkan mimpi saya untuk mengharumkan nama Indonesia di kancah internasional. Meskipun di tengah proses pembuatan SMANU menemui banyak kendala, seperti mencari subjek penelitian, serta pembagian waktu antara akademik dan lomba,” ujarnya.

Namun Sassya bersyukur, banyak pihak mendukungnya di tengah kendala yang dia hadapi. “Saya bersyukur karena banyak yang mendukung saya, seperti pendampingan dari tim Pusat Prestasi Nasional (Puspresnas), guru-guru SMA saya terutama kepala sekolah yakni Bapak Sutardi, S. Pd, M. Pd, dosen-dosen di UNAIR terutama dosen wali saya yakni ibu Dr. Eng. Intan Nurul. S. Si. M.T, hingga teman-teman robotika yakni Kakarobot. Mereka membantu saya untuk bisa melalui kendala-kendala tersebut,” ungkapnya.

“Jangan pernah ragu untuk memulai hal baru, cobalah gali potensi, dan tentukan tujuan. Saya juga mengingat pesan pembina saya yakni ‘tidak ada hasil yang sia-sia dan penyesalan ketika kita memaksimalkan usaha,” pungkasnya.(*)(fgw/wil)

Share:

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on whatsapp
WhatsApp
Share on telegram
Telegram
Share on email
Email
Share on linkedin
LinkedIn

Related Posts