Sistem Pertanian Hidroponik Bertenaga Surya Sebagai Langkah Mengurangi Efek Perubahan Iklim Dari Polusi Emisi Gas Karbon

FTMM NEWS – Bahan bakar fosil saat ini merupakan salah satu jenis sumber energi yang paling dapat diandalkan untuk mencukupi kebutuhan energi, terutama energi listrik. Indonesia sendiri merupakan salah satu negara yang mempunyai potensi bahan bakar bakar fosil. Bahan bakar fosil yang digunakan untuk menghasilkan energi terutama adalah batu bara. Batu bara digunakan sebagai bahan bakar pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) yang juga menjadi penyokong kelistrikan di Indonesia. Sementara ini pihak perusahaan listrik negara (PLN) dengan anak perusahaannya yang bergerak di bidang pembangkitan listrik, yaitu PT Pembangkitan jawa Bali (PJB) dan PT Indonesia Power. Pada kedua perusahaan pembangkitan listrik ini, unit pembangkit listrik yang digunakan sebagai penyokokng utama adalah PLTU dan pembangkit listrik tenaga panas bumi (PLTP). Pada PLTP tentunya tidak ada emisi karbon yang dihasilkan dalam proses konversi energi panas menjadi listrik. Namun untuk PLTU terdapat emisi gas karbon dari hasil pembakaran batu bara. Pada PLTU, bahan bakar fosil tersebut digunakan untuk memanaskan fluida di dalam boiler. Fluida yang telah dipanaskan berubah menjadi uap bertekanan yang mempunyai energi kinetic. Energi kinetic ini digunakan untuk memutar turbin yang terkopel dengan generator. Generator yang berputar akan menghasilkan listrik. Proses konversi energi tersebutlah yang menghasilkan karbon yang dibuang ke udara.

Emisi karbon yang dibuang di udara akan menumpuk di atmosfer dan dapat membuat lapisan ozon menipis. Penipisan lapisan ozon ini yang menurut para peneliti dan LSM di dunia dianggap sebagai pelaku utama terjadinya perubahan iklim. Menanggapi hal ini, para dosen dan mahasiswa dari FTMM Universitas Airlangga membuat satu program pengabdian masyarakat yang menargetkan petani hidroponik. Kegiatan tersebut tidak hanya bertujuan untuk meningkatkan produktivitas pertanian, namun juga berkontribusi untuk menggantikan konsumsi energi listrik dari PLN dengan tenaga surya.
Pertanian hidroponik yang dikelola oleh kelompok tani Hidroponikkoe berlokasi di Desa Karangploso, kecamatan Gempol, Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur. Terdapat 4 instalasi hidroponik yang disuplai listrik oleh pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) yang dibangun oleh tim pengabdian masyarakat dari FTMM UNAIR. Setiap instalasi hidroponik mempunyai kebutuhan listrik yang digunakan untuk menghidupkan pompa air, lampu grow light, dan perangkat monitoring. Pompa air dan perangkat monitoring dinyalakan selama 24 jam, sedangkan grow light dinyalakan selama 12 jam pada malam hari.
Sistem PLTS yang dibangun mempunyai kapasitas sebesar 900 Wp. PLTS tersebut menggunakan 3unit panel surya jenis monokristal yang masing-masing mempunyai 300 Wp. Sistem ini mempunyai penyimpanan berupa baterai VRLA 12 V 100 Ah. Untuk sarana optimalisasi panen energi, menggunakan solar charge controller (SCC) MPPT 12 V 60 A. Sedangkan inverter menggunakan tipe modified wave dengan kapasitas daya 500 Watt. Listrik yang dihasilkan PLTS digunakan untuk menyuplai keempat instalasi hidroponik yang berada di dekat instalasi PLTS.
Berdasarkan hasil uji fungsi system, energi yang dihasilkan oleh PLTS ini adalah rata-rata sebesar 3845 Wh per hari. Jumlah panen energi tersebut cukup untuk menyuplai keempat instalasi hidroponik dengan konsumi energi listrik rata-rata adalah 932 Wh per hari. Energi listrik yang dihasilkan dapat menggantikan sekitar 896 kg emisi gas karbon dioksida per tahun. Dengan demikian, kegiatan ini tentu sangat mendukung tujuan pembangunan berkelanjutan (Sustainable Development Goals) dalam aksi penanganan perubahan iklim, yaitu tujuan 13.

Harapannya dengan pembangunan PLTS untuk system hidroponik ini selain dapat meningkatkan produktivitas pertanian tanpa tanah, juga mengurangi emisi gas karbon. Dari hal itu maka dapat mengurangi efek perubahan iklim yang diakibatkan oleh penipisan ozon dari gas karbon. Dengan hal itu, tidak hanya memberikan berkontribusi kepada warga, kegiatan tim pengabdian masyarakat tersebut sesuai dengan program yang dicanangkan oleh PBB yaitu Sustainable Development Goals (SDGs), yang mencakup poin 13 tentang perubahan iklim.(*)(pm/cpw)

Share:

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on whatsapp
WhatsApp
Share on telegram
Telegram
Share on email
Email
Share on linkedin
LinkedIn

Related Posts

X