Program Studi TRKB FTMM Gelar Webinar: The Rise of Robotics and AI in the 4th Industrial Revolution

FTMM NEWS – Belakangan, pengembangan teknologi robot dan kecerdasan buatan begitu gencar dikembangkan oleh berbagai negara di dunia. Fenomena tersebut direspon berbagai instansi dengan berkompetisi menunjukkan karya terbaiknya.

Tidak ingin ketinggalan, Universitas Airlangga (UNAIR) melalui pendirian fakultas baru, yakni FTMM menghadirkan program studi Teknik Robotika dan Kecerdasan Buatan (TRKB). Hal itu sebagai bentuk respons atas fenomena trendy dari berkembangnya ilmu robotika dan kecerdasan buatan (artificial intelligence (AI)).

Menanggapi hal tersebut, prodi TRKB pada hari Sabtu (27/2/2021) menggelar webinar dengan tema besar The Rise of Robotics and AI in the 4th Industrial Revolution. Sesi yang diikuti oleh lebih dari 400 peserta dari berbagai penjuru Indonesia itu berlangsung dengan lancar.

Purbandini, S.Si., M.Kom, selaku Koordinator Program Studi TRKB, dalam sambutannya mengatakan bahwa webinar tersebut dilaksanakan sebagai langkah untuk memperkenalkan prodi TRKB kepada masyarakat luas. Selain itu, TRKB juga merupakan satu-satunya program studi (prodi) di Indonesia yang mengkolaborasikan robotika dan kecerdasan buatan sebagai disiplin ilmu baru.

“FTMM sebagai pilar engineering didirikan untuk melengkapi tiga pilar health science, social science, dan life science. Kontribusi FTMM akan difokuskan untuk membangun sumber daya manusia yang expert dalam bidang engineering namun tidak melupakan morality,” tegasnya.

Sementara itu, Muhammad Aldo Setiawan, S.Si., M.Sc. (Eng), selaku dosen TRKB menyampaikan jika dirinya telah  menggeluti bidang robotik sejak lama. Sebelumnya, Aldo pernah bekerja untuk pemerintah, terutama TNI dan bidang farmasi, serta sempat bekerja untuk instansi di Inggris (United Kingdom). 

“Alhamdulillah saat itu saya mendapat info terdapat jurusan baru, yakni TRKB di FTMM UNAIR, dan saya memutuskan untuk mengabdikan diri saya sebagai dosen,” ujarnya.

Robot, menurut Aldo, dapat mengerjakan pekerjaan yang belum tentu bisa dikerjakan manusia, terutama dalam hal mobilisasi skala besar dan masif. Kedepannya, peran manusia memang akan digantikan oleh robot dan kecerdasan buatan, namun manusia tidak begitu saja disingkirkan dan mengakibatkan pengangguran baru.

Hal itu, sambungnya, akan mengalihkan fungsi manusia sehingga kapasitasnya dapat ditingkatkan. Jika sebelumnya manusia berperan sebagai eksekutor, maka dengan adanya robot, peran manusia akan berubah menjadi teknisi, pembuat robot, programmer, maupun hal-hal lainnya yang tidak dapat dilakukan oleh robot. Selain itu, seperti dalam situasi pandemi saat ini, robot dapat menggantikan peran manusia untuk membantu pengantaran makanan hingga obat, hal itu sekaligus meminimalisir bahaya penularan melalui tingginya mobilitas manusia.

“Keberadaan AI sudah ada di sekeliling kita, seperti siri, alexa, google asisten, hingga cortana. AI bukan sekedar computer science, melainkan lebih luas,” tandasnya.

Kedepannya, kehadiran robotika dengan kecerdasan buatan tidak hanya untuk membedakan warna saja, namun akan lebih canggih dan futuristik. Saat ini, tidak hanya negara maju saja yang sedang mengembangkan robot dan kecerdasan buatan. Namun, negara berkembang juga turut berkompetisi untuk mengembangkannya.

Prodi TRKB bersifat multidisiplin. Bukan hanya berkaitan erat dengan ilmu elektro, tetapi juga melibatkan computer science, desain mekanik, kemampuan programming, dan segala hal terkait robotika dan kecerdasan buatan. “Kedepannya akan sangat banyak pihak yang membutuhkan ilmuwan robotik dan AI. Maka, belajar di TRKB merupakan langkah yang tepat untuk memulainya,” imbuh dosen lulusan University of Leeds itu.

Selanjutnya, Yutika Amelia Effendi, S.Kom., M.Kom, menjelaskan bahwa TRKB hadir untuk menjawab perkembangan ilmu robotika yang terus berkembang. Lulusannya diharapkan akan menjadi pakar yang membanggakan bangsa dan almamater.

“Saat ini TRKB telah mengantongi akreditasi minimum dari BAN-PT dan berakhir pada 2021. Selanjutnya, akan dilanjut akreditasi ulang pada 2022, semoga memperoleh akreditasi A,” ungkapnya.

Penyusunan kurikulum pembelajaran, lanjut Yutika, berdasarkan literatur terbaru, dan juga bantuan para profesor, pakar, serta industri yang relevan. Selain itu, tenaga pengajar di TRKB merupakan pihak yang sangat kompeten pada bidangnya dan siap untuk membimbing mahasiswa menjadi akademisi maupun pakar robotika yang mutakhir.

“Sejak awal perkuliahan diberi materi dari yang umum, jadi untuk yang tidak memiliki pengalaman pada bidang TRKB, bisa belajar dari awal, dan yang memiliki pengalaman bisa saling membantu,” pungkasnya.(*)

Share:

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on whatsapp
WhatsApp
Share on telegram
Telegram
Share on email
Email
Share on linkedin
LinkedIn

Related Posts