Aplikasi Nanoteknologi Dalam Bidang Pertanian

Nanoteknologi

FTMM NEWS – Nanoteknologi adalah satu ilmu atau teknologi yang mempelajari obyek yang ukurannya sangat kecil (sepersemiliar meter), kemudian dilakukan manipulasi-manipulasi untuk menghasilkan benda-benda baru yang menjadi karakter khusus seperti yang diinginkan. Sederhananya, nanoteknologi merupakan lompatan teknologi untuk merekayasa benda-benda baru dari benda-benda yang sudah ada.

Prof. Dr. Retno Sari, Apt. Ahli Farmasetika Nanoteknologi sekaligus Koordiantor Program Studi Rekayasa Nanoteknologi Fakultas Teknologi Maju dan Multidisiplin Universitas Airlangga, memaparkan topik menarik berkaitan nanoteknologi. 

Kesempatan Prof. Sari menjelaskan isu tentang potensi risiko cemaran nanopartikel dari pengembangan nanofertilizer pada lingkungan dan manusia, disampaikan dalam Forum Group Discussion Indonesia Fertilizer Research Institute (IFRI), Senin (15/8). Tidak hanya itu, Prof. Sari juga menjelaskan materi tentang upaya preventif dalam menghindari risiko dari pengembangan nano di bidang pertanian berkelanjutan.

Dalam presentasi singkatnya, Prof. Sari menyoroti masalah peningkatan N.P.K pada air tanah, yang disebabkan tingginya kebutuhan fertilizer yang mencapai 35-40 persen di sektor pertanian.

“Perlu adanya perhatian soal daya sebar karena ukurannya yang kecil. Membutuhkan konsep green technology untuk mengurangi dampak buruk masalah ini,” ujar Prof. Sari. 

Green Technology adalah suatu konsep pengembangan teknologi yang dimulai dari teori-teori perancangan atau pengembangan suatu sistem operasi yang memiliki integrasi antara teknologi modern dengan ilmu lingkungan, dengan tujuan mengurangi dampak negatif dari aktivitas manusia. Green Technology mengacu pada pemakaian unsur alami seperti tanaman, mikroorganisme, asam amino dan glukosa. Menurut Prof. Sari, upaya green technology bisa diwujudkan dalam upaya mencegah kebocoran, meminimalkan penguapan, mencegah kerusakan lingkungan lewat metode menjebak dalam material nano.

nanoteknologi

FGD Indonesia Fertilizer Research Institute (IFRI)  bertujuan membangun diskusi lintas kepakaran dan keilmuan terkait kelayakan nanofertilizer. Hasil diskusi ini akan dianalisis dan dimanfaatkan oleh Indonesia Fertilizer Research Institute dalam menyusun brief notes yang akan disampaikan ke manajemen dan stakeholders terkait. Selain itu, informasi akan dimanfaatkan sebagai dasar rencana pengembangan riset di IFRI. FGD diikuti dari sejumlah pakar seperti dari BRIN, UGM, Litbang Pertanian.and

 

 

 

 

Share:

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on whatsapp
WhatsApp
Share on telegram
Telegram
Share on email
Email
Share on linkedin
LinkedIn

Related Posts

X