Mengupas Hukum Crypto dalam Islam Bersama Atom FTMM

FTMM NEWS – Pada hari Sabtu (18/05/2024) Departemen Kajian dan Aksi Strategis (Kastrat) Atom FTMM menyelenggarakan kajian ini mengangkat tema Cara Pandang Islam Terhadap Sistem Investasi Crypto. Bertajuk Islamic Intellectual Studies (Studi). Studi kali ini mengundang Dr. Imron Mawardi, S.P., M.Si. selaku wakil dekan II FTMM dan ekonom Islam sebagai pemateri. Tidak hanya mahasiswa dari FTMM, tetapi juga dari FEB, FIB, FKH dan beberapa fakultas lainnya.

Di Ruang 6.08 Gedung Nano Kampus C Universitas Airlangga, Dr. Imron menjelaskan pentingnya berislam secara kaffah atau menyeluruh, termasuk dalam aspek ekonomi. “Dalam Islam, salah satu prinsip syariat adalah tercapainya maqashid syariah, di mana umat mendapatkan lebih banyak manfaat daripada keburukan,” jelas beliau.

Cryptocurrency berasal dari kata cryptography (rahasia) dan currency (mata uang).  Crypto didefinisikan sebagai mata uang virtual yang dilindungi kode rahasia berupa sandi yang rumit dan dicatat dalam teknologi blockchain. Salah satu bentuk transaksinya adalah margin trading. Margin trading adalah jenis transaksi di mana para investor menggunakan margin tertentu untuk melakukan perdagangan. Apabila seseorang memiliki uang sejumlah 1 juta rupiah dan mengambil margin sebesar 20x, maka dia dapat bertransaksi sebanyak 20 juta. Jika harga crypto naik 5 persen, maka dia akan memperoleh keuntungan sebesar 5% dikali 20 = 100% atau 1 juta rupiah. Jika yang terjadi sebaliknya, maka akan timbul kerugian.

Inilah Hukum Crypto

Menurut ijtima’ Ulama MUI ke-7 dan bahtsul masail NU Jawa Timur 2021, hukum crypto dan transaksinya adalah haram. Ini karena crypto mengandung unsur gharar (jual beli yang tidak jelas/mengandung spekulasi) dan dharar (transaksi yang dapat merugikan orang lain). Selain itu, crypto juga bertentangan dengan undang-undang dan regulasi yang ada. 

Crypto sendiri tidak memenuhi syarat sebagai komoditas atau sil’ah,” ungkap Dr. Imron. “Hal ini disebabkan crypto tidak memiliki underlying dan manfaat yang jelas.” Lebih lanjut, beliau menjelaskan saat ini cypto ditransaksikan bukan sebagai  alat pembayaran, tetapi sebagai alat spekulasi/investasi. “Jika crypto sah dianggap sebagai mata uang, maka terikat oleh syariat untuk hanya ditransaksikan secara spot dan tunai. Akadnya pun dengan akad sharf atau pertukaran, bukan jual beli. Uang bukanlah komoditas.”

Dr. Imron juga menjelaskan terkait binary option crypto. Instrumen trading online ini mengharuskan trader memprediksi apakah harga suatu aset akan bergerak naik atau turun dalam jangka waktu tertentu. Transaksi ini mengandung gharar dan melibatkan perdagangan komoditas tak berwujud (bay’ al-ma’dum). Yang diperdagangkan hanya angka indeks harga atas suatu komoditas, tanpa underlying asset. “Metode seperti ini menggunakan zero sum game, yaitu karakteristik dari maysir atau judi. Sehingga haram pula.”

Dalam closing statement-nya, Dr. Imron menekankan hukum crypto adalah haram mutlak jika transaksinya adalah trading, baik sebagai mata uang atau komoditas. “Penting bagi kita untuk bermuamalah sesuai tuntunan dari Allah SWT, karena nantinya harta benda kita, termasuk cara mendapatkannya, akan ada pertanggungjawaban di akhirat,” ujar beliau.

Penulis : Adelline Vita Kurnia (RN 23) dan Aura Najma Kustiananda (TSD 22)

Editor : Andri Hariyanto

 

 

 

 

Share:

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on whatsapp
WhatsApp
Share on telegram
Telegram
Share on email
Email
Share on linkedin
LinkedIn

Related Posts

BEM FTMM

BEM FTMM Buka Pendaftaran Anggota

FTMM News – Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) FTMM UNAIR membuka pendaftaran anggota. Setelah melakukan pemilihan presiden BEM FTMM kemarin. Saatnya