Lilik Jamilatul Awalin, Ph.D : Riset EBT Harus Ditingkatkan Guna Menghasilkan Energi Bersih di Indonesia

FTMM NEWS – Definisi dari Energi Baru dan Terbarukan (EBT), menurut UU No. 30 Tahun 1997, Energi Baru merupakan energi yg berasal dari sumber baru, baik teknologi maupun sumber baru tak terbarukan. Sedangkan energi terbarukan adalah energi yang berkelanjutan jika dikelola dengan baik.

Lilik Jamilatul Awalin, Ph.D yang merupakan Dosen Teknik Elektro Fakultas Teknologi Maju dan Multidisiplin (FTMM) Universitas Airlangga (UNAIR) menerangkan bahwa menurut International energy Agency (IEA) EBT merupakan hasil dari proses alam yang diisi terus menerus dan dapat diproduksi lebih cepat dan tidak akan habis.

Menurut Lilik, banyak sekali hambatan dalam menerapkan EBT, padahal kondisi di lapangan efek dari bahan bakar fosil (BBF) sudah tidak dapat ditoleransi. Energi yang dihasilkan dari bahan bakar fosil juga termasuk teknologi konvensional yang menghasilkan CO2.

“Hal itu didorong oleh fakta ketersediaan energi bahan bakar fosil semakin terbatas dan merusak lingkungan dari proses pembakarannya,” jelasnya pada Jum’at (26/3/2021). 

Seperti contohnya, sambung Lilik, layaknya Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) di Gresik yang asapnya cukup tebal dan menghasilkan beberapa gas berbahaya, serta mengakibatkan tingginya efek rumah kaca. Selain itu, bekas galian tambang seringkali merusak lingkungan sekitar dan mengakibatkan kerugian.

Oleh karena itu, EBT merupakan opsi mutakhir yang lebih ramah lingkungan dan persediaannya dapat diperbarui dengan mudah. “Dulu imbas dari BBF tidak terlalu kerasa, namun semakin kesini dengan bertambahnya jumlah penduduk dan kebutuhan, maka imbasnya terasa dan ketersediaan BBF juga semakin menipis,” imbuhnya.

Kondisi seperti ini menurut Lilik merupakan isu dunia yang tidak bisa diabaikan. Berdasarkan data dari Direktorat Jenderal EBTKE, pada tahun 2020 menurut penelitian, EBT menghasilkan CO2 sekitar 28,79% dan sampai tahun 2030 menghasilkan 170,39%. Hal itu berarti potensi reduksi yang dihasilkan EBT sangat signifikan untuk dapat mengurangi  sebanyak 170,39 juta ton CO2 sampai tahun 2030.

Sementara itu, kapasitas EBT di dunia berdasarkan data tahun 2019, utamanya di Asia, sebanyak 1124 GW dengan perubahan penambahannya mencapai 109,1 GW,  dan global share CO2 48,8%. Sedangkan kapasitas EBT terpasang di dunia sejak 2010-2018 di Asia memiliki jumlah EBT tertinggi. China menduduki posisi pertama di Asia dan kedua India.

“Jumlah EBT tertinggi di China berasal dari sumber energi air sejumlah 420 GW, angin 200 GW, nuklir 58 GW. Sedangkan di India yang tertinggi berasal dari energi angin dengan kapasitas 37,66 MW dan solar panel sejumlah 34,404 MW,” ungkap Dosen lulusan University Malaya tersebut.

Menurut data Institute for Essential Services Reform (IESR) cadangan EBT di Indonesia mencapai 432 GW, namun yang sudah dimanfaatkan secara komersial hanya 7 GW. Sedangkan Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik PLN 2019-2028 sebesar 29 GW dan Rencana Umum Energi Daerah 48 GW di 34 provinsi sampai 2025.

Status EBT di Indonesia saat ini sebanyak 66% PLTA, 27% PLTPB, dan 7% sumber lain. Pada rencana 29 GW tahun 2028 yakni 50% PLTA, 26% PLTPB, 16% PLTS, dan 8% sumber lain.

“Ketergantungan pada tenaga air sangatlah besar, padahal Indonesia memiliki potensi besar EBT dari tenaga matahari, namun pemanfaatannya masih 16%. Potensi PLTS mencapai 200 GW, namun pemanfaatannya masih kurang dari 100 GW. Oleh karena itu riset, instalasi, dan pemanfaatan PLTS perlu digalakkan,” tegasnya.

Potensi PLTS yang besar harus dimanfaatkan, salah satu langkah UNAIR adalah membangun PLTS dan research center untuk bekerjasama dalam mengembangkan teknologi dan pengoptimalan PLTS di Indonesia.

“UNAIR melalui FTMM akan menjadi pioneer dalam pengembangan EBT khususnya di Jawa Timur,” pungkasnya.(*)

Share:

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on whatsapp
WhatsApp
Share on telegram
Telegram
Share on email
Email
Share on linkedin
LinkedIn

Related Posts