Melalui Buku Gambar Bercerita, Prodi Rekayasa Nanoteknologi Kenalkan Nanoteknologi pada Anak-anak

 

FTMM NEWS – Selama dua dekade terakhir, bidang nanoteknologi menjadi pusat perhatian dunia dan mengalami perkembangan yang teramat sangat pesat. Terlebih, kini penerapan nanoteknologi telah ada dalam berbagai bidang, mulai dari energi, tekstil, obat, hingga pertanian. Secara tidak langsung, nanoteknologi sudah memasuki kehidupan masyarakat sehari-hari.

Namun, nanoteknologi masih menjadi hal yang awam dalam benak masyarakat luas. Kendati demikian, media seringkali menggunakan ‘Nanoteknologi’ guna menjelaskan sebuah konsep teknologi yang rumit.

“Ini menciptakan stigma bahwa nanoteknologi itu rumit di mata masyarakat,” ungkap Dr. Eng. Moch. Lutfi Firmansyah, S.Si., M.Phil selaku dosen Rekayasa Nanoteknologi FTMM UNAIR pada Rabu (3/11/2021)

Berangkat dari fenomena tersebut, Lutfi -sapaan akrabnya- bersama dengan tim dosen prodi Rekayasa Nanoteknologi telah menjelaskan “Apa itu Nanoteknologi” dengan sederhana. Penjelasan tersebut melalui program pengabdian masyarakat guna menunjang pendidikan bermutu sesuai dengan poin ke-empat SDGs.

Pemanfaatan media buku cerita bergambar untuk anak usia dini dan sekolah dasar menjadi poin penting yang di usung. Berpedoman pada target demografi yang masih muda, buku tersebut berusaha menyederhanakan konsep nanoteknologi. Serta bercerita tentang sejarah dan potensi masa depan dari nanoteknologi.

POTRET Bagian dari Buku Hasil Karya Prodi Rekayasa Nanoteknologi
POTRET Bagian dari Buku Hasil Karya Prodi Rekayasa Nanoteknologi

Data Kemampuan Sains dan Matematika Anak-anak Indonesia

Program pengabdian masyarakat ini mengandeng komunitas literasi di Indonesia, seperti Yayasan Literasi Anak Indonesia, Klub Literasi Anak Surabaya dan Komunitas Buku untuk Papua. Seperti laporan PISA di tahun 2018, kemampuan sains dan matematika anak-anak Indonesia masih berada di bawah rata-rata, yaitu 370-396 sedangkan rata-ratanya adalah 487-489.

“Banyak faktor yang mempengaruhi hasil ini, mulai jenis kurikulum, metode pendidikan hingga pola pengasuhan. Buku hasil dari kegiatan pengabdian masyarakat ini bisa di unduh secara gratis pada Google Playbooks (klik di sini untuk mengunduh) dan laman  Fakultas Teknologi Maju dan Multidisiplin. Buku ini dapat menjadi salah satu media pengenalan sains, terutama bidang Nanoteknologi kepada anak-anak dan meningkatkan minat untuk mempelajari ilmu sains,” jelas Lutfi.

Dalam buku ini mengusung kisah perjalanan tiga anak kecil, yakni Rani, Septi, dan Zain yang penasaran dengan “nanoteknologi”. Kemudian mereka bertanya kepada Om Atha yang merupakan seorang Guru. Om Atha menjelaskan sejarah nanoteknologi yang ternyata sudah ada sejak tahun 600 SM di India.

“Kata nanoteknologi di ungkapkan pertama kali oleh Eric Drexler yang terinspirasi oleh pidato dari Richard Feynmann, dalam bukunya pada tahun 1986. Nanocar dan nanoguitar, yaitu mobil dan gitar dalam ukuran nanometer sudah berhasilkan dibuat dalam oleh para ilmuwan nanoteknologi. Om Atha juga menjelaskan potensi Nanoteknologi di masa depan, seperti dalam panel surya, kesehatan, sensor, dll. Dalam buku ini juga ada aktifitas dan eksperimen sederhana yang bisa dilakukan anak-anak,” pungkasnya.(*)(lut/wil)

Share:

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on whatsapp
WhatsApp
Share on telegram
Telegram
Share on email
Email
Share on linkedin
LinkedIn

Related Posts