Halal Sebagai Potensi Kebangkitan Ekonomi Nasional yang Masih Terabaikan

FTMM NEWS – Setahun yang lalu (03/22), pemerintah Indonesia melalui Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH) Kementerian Agama meluncurkan logo halal yang baru. Awalnya, label produk halal di Indonesia identik dengan tulisan bahasa Arab dan Indonesia berwarna hijau bulat. Logo ini berubah menjadi bentuk gunungan wayang dengan motif surjan berwarna ungu. Perubahan ini cukup mengejutkan masyarakat dan menimbulkan perdebatan yang sengit. Perdebatan ini mengenai kemudahan logo baru untuk dikenali sebagai penanda kehalalan suatu produk. Sebagian kecil masyarakat menganggap bahwa bentuk dan motifnya hanya mewakili masyarakat Jawa saja. Hal ini mengakibatkan munculnya banyak logo tandingan di dunia maya. Logo tandingan ini menampilkan warna serupa dengan bentuk dan motif yang khas dari berbagai daerah di Indonesia. 

perubahan logo halal

Sumber: Google

Melalui perubahan logo ini, pemerintah ingin meningkatkan kesadaran masyarakat akan keseriusannya dalam menggarap potensi industri halal. Terbitnya UU Cipta Kerja No 11 Tahun 2020 mendukung hal ini. Poin utama UU tersebut adalah kewajiban pelaku usaha mikro dan kecil untuk memiliki sertifikat halal bagi produk olahannya. Dalam UU tersebut juga terdapat pemindahan beberapa kewenangan dari Majelis Ulama Indonesia ke BPJPH. Melalui UU ini, pemerintah memiliki target untuk menjadikan Indonesia sebagai pusat industri halal dunia pada tahun 2024. Pemerintah menargetkan 10 juta produk untuk memiliki sertifikasi kehalalan. Untuk mempercepat ketercapaian target itu, pemerintah memberikan banyak kemudahan kepada pelaku usaha mikro dan kecil. Salah satunya adalah regulasi self-declare pernyataan status halal produk UMK oleh pelaku usaha itu sendiri. 

Kemudahan dalam mendapatkan sertifikasi ini tentu saja mematahkan pendapat yang menyatakan bahwa terbitnya aturan ini menyusahkan pelaku UMK. Salah satu tantangan bagi UMK untuk bisa memiliki sertifikat adalah kurangnya pengetahuan pelaku UMK mengenai sistem halal. Namun, kini organisasi Islam seperti NU dan Muhammadiyah sudah yang terjun ke masyarakat untuk melakukan edukasi dan membantu proses mendapatkan sertifikasi.

Indonesia sebagai Pusat Industri Halal Dunia 2024

Target pemerintah ini bukan tanpa sebab. Indonesia memiliki populasi umat muslim terbesar di dunia (237 juta jiwa), sehingga menjadikannya negara dengan konsumsi produk halal terbesar pula di dunia. Permintaan produk meliputi makanan dan minuman, keuangan, pakaian, pariwisata, media dan rekreasi, farmasi dan obat obatan, serta kosmetik. Sayangnya, dalam hal produksi, Indonesia masih belum memaksimalkan potensi yang dimiliki. Menurut laporan State of the Global Islamic Economy (SGIE) pada tahun 2020/21, Amerika Serikat (AS), India, Brasil, Prancis, dan Rusia adalah 5 negara terbesar eksportir produk halal. 

Oleh karena itu, langkah pemerintah menargetkan produk UMKM agar bersertifikasi sudah tepat, mengingat sekitar 60% PDB Indonesia disokong oleh UMKM. Pemenuhan kebutuhan lokal akan mampu menghasilkan potensi ekonomi yang besar bagi Indonesia. Langkah selanjutnya yang juga menjadi PR kita bersama adalah memastikan bahwa produk UMKM juga mampu memenuhi standar ekspor. Hal ini bisa diatasi dengan integrasi sertifikasi halal dengan sertifikasi produk terkait, misalnya BPOM dan pendampingan oleh lembaga pemerintah dan non pemerintah dalam rangka halal dan kesiapan ekspor produk. Harapannya, Indonesia tidak hanya unggul dalam jumlah konsumsi, namun juga mampu menciptakan kesejahteraan rakyat dalam ekosistem halal lokal dan internasional.

Penulis: Aisyah Dewi Muthi’ah
Editor: Rizky Astari Rahmania



Share:

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on whatsapp
WhatsApp
Share on telegram
Telegram
Share on email
Email
Share on linkedin
LinkedIn

Related Posts