Dr. Eng. Intan Nurul Rizki, S.Si.,M.T : Kontroversi Pembuangan Limbah Nuklir Jepang ke Laut dapat diredam dengan Pengelolaan yang Efisien

FTMM NEWS – Belakangan, pemerintah Jepang menerima banyak kecaman atas rencananya yang hendak membuang limbah nuklir ke laut. Pasalnya, hal tersebut berpotensi mencemari dan merusak ekosistem laut sehingga membawa dampak kerugian yang besar.

Merespons hal itu, Dr. Eng. Intan Nurul Rizki, S.Si., M.T, dosen Rekayasa Nanoteknologi Fakultas Teknologi Maju dan Multidisiplin (FTMM) Universitas Airlangga (UNAIR) mengungkapkan jika limbah nuklir mengandung banyak zat radioaktif, seperti tritium, iodine, selenium, dan karbon-14. Zat-zat tersebut akan menimbulkan dampak serius dan berbahaya jika terpapar oleh makhluk hidup.

“Dampak yang ditimbulkan sifatnya akumulatif, artinya akan terlihat setelah 5, 10, bahkan 20 tahun mendatang. Akumulasi umumnya terjadi pada biota laut yang terhubung dalam rantai makanan,” tegasnya.

Lalu, imbuh Intan, jika sampai dikonsumsi oleh manusia, akan menjadi penyebab kanker, gangguan janin, cacat fisik, cacat organ tubuh, berkurangnya umur manusia, mutasi DNA pada mikroorganisme, kerusakan DNA sel manusia, dan efek berbahaya lainnya. 

 

Melalui Proses ALPS Sebelum Dibuang

Berdasarkan data di lapangan, sebelum dilakukan pembuangan ke laut, limbah nuklir Jepang telah melalui proses Advanced Liquid Processing System (ALPS). Melalui proses tersebut, sebagian besar zat radioaktif hilang, namun masih terdapat zat radioaktif berjenis tritium dalam limbah tersebut.

“Ketika saya masih belajar di Jepang, salah satu laboratorium pernah melakukan penelitian pengembangan material adsorbent untuk menyerap limbah cair radioaktif. Hasilnya, material tersebut memiliki tingkat efisiensi 90-99 persen dalam menghilangkan zat radioaktif,” ujarnya.

Hal itu membuat sisa kandungan radioaktif dalam limbah cair mendekati 0 persen. Maka, akan sangat aman jika limbah tersebut dibuang ke lingkungan.

Tokyo Electric Power Company (TEPCO) mengatakan, tritium dan bahan radioaktif termasuk karbon-14 yang akan melalui pengolahan sekunder, sehingga dapat berkurang sebanyak mungkin. Sementara itu, menurut Universitas Sheffield Inggris, tritium yang telah dilepaskan ke laut oleh negara-negara lain, menimbulkan dampak yang rendah bagi organisme.

Tritium berpotensi terdegradasi secara alami, karena zat radioaktif memiliki batas waktu. Permasalahannya, waktu yang dibutuhkan yakni 12 tahun, tentu akan sangat lama,” paparnya.

Maka, pengolahan tritium harus dilakukan terlebih dahulu sebelum dibuang ke laut. Regulasi pengolahan tritium telah tercantum dalam International Atomic Energy Agency (IAEA). Dalam regulasi tersebut terdapat batas kadar tritium dan karbon-14 yang dapat masuk ke dalam tubuh manusia.

Menurut Intan, untuk meredam kontroversi pembuangan limbah nuklir, Jepang dapat menggelar diskusi dengan China maupun negara-negara yang memiliki PLTN. Tujuannya supaya memunculkan persamaan persepsi dan langkah efisien dalam mengelola limbah nuklir. Sehingga, akan mengurangi kemungkinan terjadinya kerusakan dan pencemaran lingkungan.(*)(wil/cpw)

Photo by Frédéric Paulussen on Unsplash

Share:

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on whatsapp
WhatsApp
Share on telegram
Telegram
Share on email
Email
Share on linkedin
LinkedIn

Related Posts

WoW Workshop of Writing

Hello to all young researchers! Feeling stuck while doing research during this pandemic era? Don’t worry ! Faculty of Advanced