Dosen Teknologi Sains Data: Big Data Berpotensi Mempermudah Urusan Manusia dari Segala Aspek

FTMM NEWS – Belakangan ini istilah Big Data seringkali terkait dengan berlangsungnya era revolusi industri 4.0. Namun, sebenarnya tidak ada definisi pasti mengenai apa itu big data.

Muhammad Noor Fakhruzzaman, S.Kom., M.Sc, salah satu dosen Program Studi Teknologi Sains Data (TSD) Fakultas Teknologi Maju dan Multidisiplin (FTMM) Universitas Airlangga (UNAIR) menjelaskan bahwa menurutnya big data hanyalah sebuah buzzwordBuzzword merupakan kata yang baru muncul atau telah ada sebelumnya dan menjadi sangat populer untuk jangka waktu tertentu.

“Menurut saya, big data hanya buzzword dan tidak memiliki definisi mutlak,” jelas dosen yang biasa disapa Ruzza itu.

Lebih lanjut, Ruzza menjelaskan jika big data berpotensi untuk membuat kehidupan yang lebih terintegrasi antar satu dengan yang lainnya. Tidak hanya itu, penggunaan big data juga akan lebih memudahkan segala aspek kehidupan.

“Contoh sederhana, misalnya penggunaan big data pada smart city memungkinkan untuk menghemat energi listrik dan bahan bakar karena data cctv dijalan dapat dianalisis secara otomatis oleh kecerdasan buatan guna mendeteksi potensi kemacetan,” jelasya (22/9/2021).

 

Pengolahan Big Data

Dalam mengolah big data, sambung Ruzza, faktor penting yang harus diperhatikan adalah sumber daya manusianya. Dia menekankan, budaya pengambilan keputusan berbasis data atau data-driven decision making penting untuk diterapkan. Hal ini dikarenakan, big data yang telah diolah tidak akan berguna jika pengambilan keputusan tidak didasari oleh data dan dilakukan sesuka hati.

Selain big data, istilah lain yang sering diperbincangkan adalah master data. Ruzza menjelaskan jika big data dan master data merupakan dua hal yang berbeda. Master data, menurutnya adalah data utama atau data pusat dimana data tersebut belum tentu dapat digolongkan sebagai big data.

“Contoh master data adalah data kependudukan pusat, biasanya data tersebut telah terstruktur dan memiliki ukuran yang besar. Namun, bisa jadi data itu memiliki kekurangan dari segi velocity (kecepatan), variety (jenisnya), veracity (akurasi) atau value (nilainya) sehingga belum dapat dikategorikan sebagai big data,” jelasnya.

Menanggapi banyaknya masyarakat yang menggunakan istilah big data belakangan. Ruzza berpendapat jika istilah tersebut sedang populer untuk dibicarakan, karena terkait dengan era revolusi industri 4.0 yang berlangsung.(*)(dta/wil)

Share:

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on whatsapp
WhatsApp
Share on telegram
Telegram
Share on email
Email
Share on linkedin
LinkedIn

Related Posts

X