Dosen Teknik Industri Ciptakan Aplikasi Medicaltourism.id untuk Wisatawan Medis Indonesia

FTMM NEWS – Fenomena naiknya kurva jumlah warga Indonesia yang menjadi wisatawan medis terbesar untuk berobat ke luar negeri, menjadi perhatian beberapa pihak.  Menyikapi hal tersebut, dr. Niko Azhari Hidayat, Sp.BTKV., selaku Dosen Teknik Industri Fakultas Teknologi Maju dan Multidisiplin (FTMM) UNAIR merilis sebuah  Platform Digital berbasis layanan yang menghubungkan ekosistem wisata dan industri medis. Platform tersebut di berinama Medicaltourism.id.

Pada sesi peluncuran, dr. Niko menegaskan bahwa Medical Tourism Indonesia hadir untuk membantu memfasilitasi serta mempromosikan pariwisata dan medis secara simultan. Hal itu, sambungnya, menerapkan konsep “end to end’’,  yang artinya melayani wisatawan medis mulai penjemputan di bandara, penyediaan akomodasi, hingga pengantaran ke fasilitas medis serta trip wisata pemulihan sampai kembali ke tempat asal.

dr. Niko, yang juga CEO Medicaltourism.id menyebutkan data International Medical Tourism Journal (IMTJ) setiap tahunnya terdapat kurang lebih tiga juta orang mengeluarkan biaya sekitar 100 triliun rupiah untuk berobat ke luar negeri. dr. Niko menilai kurangnya kepercayaan masyarakat terhadap pelayanan medis di Indonesia menjadi penyebabnya. Masyarakat enggan memilih lantaran minimnya transparansi harga, teknologi yang kurang memadai, dan lain sebagainya.

‘’Padahal Indonesia mempunyai banyak dokter-dokter hebat dan tenaga kesehatan lainnya. Hal itu sangat disayangkan jika tidak dimaksimalkan, jadi Medicaltourism.id ini hadir sebagai pemantik menumbuhkan rasa nasionalisme warga terhadap produk bangsa, dalam hal pelayanan kesehatan,’’ terangnya di Novotel Samator Surabaya pada Senin (27/9/2021).

 

Filosofi

Lebih lanjut, dr. Niko menjelaskan melalui filosofi logo startup Medicaltourism.id yang berbentuk penta helix itu, bermakna mengajak semua  elemen,  baik  pemerintah, akademisi, swasta, komunitas, dan media untuk memperbaiki sektor ekonomi dan kesehatan bersama. Pihaknya mengaku sengaja belum menggandeng semua rumah sakit untuk saat ini.

“Lebih baik pelan-pelan, sedikit demi sedikit, daripada harus semua tapi beberapa ada yang kurang siap,” tandasnya.

Pada akhir, dr. Niko menyadari bahwa strategi dalam menjalankan startup juga sangat tricky dan haus presisi. Tidak hanya profit oriented. Namun, bagaimana menyeimbangkan, mengakrabkan pasar melalui pendekatan persuasif, dan pendekatan teknologi. Contoh konkretnya dengan memasukkan konten-konten kesehatan yang dibutuhkan masyarakat ke sosial media maupun dalam aplikasi.

Meskipun istilah medical dan tourism berdampingan, dr. Niko memperjelas bahwa pariwisata sebagai pelengkap utama untuk mempercantik sisi psikis pasien saat masa penyembuhan dan kesehatan masih menjadi prioritas utama. Sebagai penutup, dr. Niko meyakinkan bahwa Indonesia sudah mulai berbenah menjadi lebih baik.

‘’Kita harus bangga dengan produk Indonesia, melalui startup ini, ekonomi Indonesia akan lebih maju lagi. Dari Surabaya untuk Indonesia serta dunia,’’ tutupnya.(*)(vir/wil)

Share:

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on whatsapp
WhatsApp
Share on telegram
Telegram
Share on email
Email
Share on linkedin
LinkedIn

Related Posts