Dosen Teknik Elektro: Dengan Keadaan geografis dan topologi yang Beragam, Jenis PLTS Photovoltaic Lebih Cocok di Indonesia

FTMM NEWS – Potensi Indonesia dalam menghasilkan energy listrik yang bersih menjadi daya unggul tersendiri. Hal itu merupakan kesempatan para electrical engineer di Indonesia untuk memberikan sumbangsih terbaiknya bagi bangsa.

Dalam gelaran seminar nasional Teknik Elektro Universitas Airlangga yang berlangsung pada Minggu (14/3/2021) membahas potensi pemanfaatan renewable energy di Indonesia. Utamanya adalah panel surya.

Prisma Megantoro, S.T., M.Eng yang merupakan dosen Teknik Elektro FTMM UNAIR mengungkapkan bahwa sejak berdiri pada 2020, TE telah membuat stasiun cuaca dan PLTS yang diletakkan di rooftop Gedung Nanizar. Lalu, bersama dengan TRKB juga berkolaborasi membuat robot ISYANA dan ARTA, serta drone untuk pemetaan.

“FTMM telah menyiapkan laboratorium dengan peralatan dan fasilitas baru yang mutakhir guna menunjang proses pembelajaran,” ujarnya.

PLTS off grid berkapasitas 1 KWp yang berada di rooftop Gedung Nanizar menjadi laboratorium mini mahasiswa untuk praktek bersama. 

Pemanfaatan energi surya ada dua jenis, yakni radiasi elektromagnetik yang berbentuk fonon (panas) dan foton (cahaya). Penggunaan panas dinamakan Concentrated Solar Powerplan (CSP) modelnya seperti PLTU yang menggunakan uap, fluida dipanaskan dan membentuk uap bertekanan dan menggerakan turbin yang disambungkan ke generator untuk menghasilkan listrik. 

“Jika PLTU menggunakan batubara, maka CSP memanaskan dengan panas cahaya matahari. Pada metode CSP terdapat cermin untuk memantulkan cahaya supaya terpusat pada satu titik. Karakteristiknya memerlukan lahan yang sangat luas dan membutuhkan intensitas sinar matahari yang tinggi, seperti di gurun Australia dan Uni Emirat Arab,” jelas Prisma.

Sedangkan di Indonesia kebanyakan memakai teknologi photovoltaic, karena tidak ada gurun dan beranekaragamnya keadaan topologi. Maka pemanfaatan teknologi photovoltaic lebih fleksibel, misalkan di perbukitan terdapat perkampungan dan ada lapangan, maka bisa dibangun PLTS photovoltaic.

“Namun jika tidak ada lapangan luas, bisa dibuat tersebar disetiap atap rumah warga,” imbuhnya.

Dengan keadaan geografis yang beragam, maka jenis PLTS photovoltaic sangat cocok diterapkan di Indonesia. Sedangkan jenis CSP lebih cocok untuk tempat dengan gurun yang luas dan panas.(*)

Share:

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on whatsapp
WhatsApp
Share on telegram
Telegram
Share on email
Email
Share on linkedin
LinkedIn

Related Posts

Banding UKT

Banding UKT untuk Mahasiswa Unair

Pandemi Covid19 yang sedang terjadi di Indonesia ini sangat berimbas pada semua sektor ekonomi yang akhirnya juga berimbas pada semua